Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

Petani memetik bunga tembakau sebagai salah satu bentuk perawatan di kawasan Margoagung, Seyegan, Sleman, Yogyakarta, Senin (2/11). Petani mengaku saat ini harga tembakau turun dibanding panen sebelumnya dari Rp 170.000 menjadi Rp 150.000 per kg menyusul permintaan dari perusahaan rokok yang berbanding terbalik dengan melimpahnya hasil panen. ANTARA FOTO/Andreas Fitri Atmoko/pd/15.

Kretek Warisan Budaya, Jangan Sampai Hilang Dari Bumi Indonesia

in News by

Kretek.co – Pernyataan LSM Rumah Kajian dan Advokasi Kerakyatan (RAYA) yang menyebut bahwa kretek harus dimusnahkan dan dimuseumkan karena bukan warisan budaya Indonesia dinilai mengada-ngada.




Koalisi Nasional Penyelamatan Kretek (KNPK) Zulvan Kurniawan menegaskan, bicara soal kretek adalah bicara mengenai tembakau, cengkih, dan saus. Kretek pun bukan rokok.

“Kretek itu beda dengan rokok. Kretek itu, kan, produk yang di dalamnya ada cengkih. Kemudian merujuk ke tradisi, kretek itu sudah sangat lama. Dan jangan lupa awal ditemukan kretek juga dipakai sebagai obat untuk sakit nafas. Jadi kretek memberikan kemaslahatan, jadi jelas bermanfaat, ” tegas Zulvan, saat dihubungi wartawan, Kamis (21/4).

Kata Zulvan, kelompok anti kretek, seperti RAYA, memang bertujuan mendeligitimasi kretek sebagai bagian budaya atas pesanan pihak asing. Zulvan mengungkapkan, dalam tugas itu RAYA mendapat sokongan dana dari Bloomberg Initiative sebesar USD 25.000 atau sekitar Rp 325 juta di kurs Rp 13.000 per USD.

“Dengan dana itu RAYA diminta Bloomberg fokus kampanye agar kretek tidak masuk sebagai warisan budaya, agar publik mendeligitimasi kretek. Intinya, kretek dikeluarkan dari bagian budaya,” tandasnya.

Perlu diketahui, Bloomberg Initiative adalah LSM Global yang menghimpun dana dari perusahaan-perusahaan farmasi untuk memerangi rokok di seluruh dunia. Perusahaan farmasi berkepentingan menggusur rokok setelah mereka menemukan nikotin sintetis.

Zulvan menyatakan, di Indonesia warisan budaya tak benda ada tujuh, di antaranya, batik, keris, angklung, dan noken papua. Kretek pun, karena sudah berusia lama, layak masuk warisan budaya tak benda karena memenuhi unsur seperti pengetahuan, perilaku tradisional, kearifan lokal, kemahiran tradisional. “Sebagai karya budaya kretek jelas memenuhi,” tegasnya.

Sejatinya, imbuh Zulvan, ketika Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 109 Tahun 2012 masih berupa rancangan PP (RPP), cengkeh sebagai bahan campuran kretek masuk ke RPP. Namun klausul ini hilang karena desakan kelompok antitembakau. PP itu sendiri ditengarai sebagai cara Pemerintah kala itu untuk mengadopsi Framework Convention on Tobacco Control (WHO FCTC) yang disokong industri farmasi. FCTC ini mengharamkan rokok beraroma, seperti aroma mentol atau cengkeh.

Budayawan Mohamad Sobary pun menegaskan, ada begitu banyak kalangan yang tidak mampu melihat sisi positif tembakau. Hal itu terjadi karena mereka umumnya sudah dipengaruhi kepentingan lobi-lobi asing.

Sobary menuding, kapitalis dan kaum lobbyst sukses mempengaruhi pemerintah hingga mereka mampu mengontrol isi regulasi.




“Campur tangan kepentingan asing itu jelas sangat merugikan kepentingan bangsa kita. Celakanya, ada saja orang Indonesia yang justru tidak berpihak kepada kepentingan Indonesia,” sindir Sobary.

Menurut Sobary, kretek harus tetap lestari. Sudah 20 tahun lebih, kretek digoyang dengan target utamanya menghapuskan kretek dari bumi Indonesia. Mereka tak pernah belajar. “Dulu Amerika pernah berkampanye bahwa minyak kopra tidak hiegenis. Tapi sekarang mereka memproduksi minyak kopra. Sekarang kopra justru hilang dari Indoneia,” tegas Sobary.

 

 

Latest from News

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com