Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

fctc rokok

Petani Tembakau Mati di Tangan Pengelola Globalisasi

in Opini by

Setelah membaca hasil-hasil penelitian yang mengungkap dinamika dan persoalan sosial petani tembakau, yang diperlukan adalah merangkainya dalam satu bingkai yang utuh; saya hendak membingkainya dalam perspektif globalisasi, the bigger piture dari kehidupan petani tembakau.

Ketika Washington Consensus dicetuskan pada tahun 1989, seperangkat rekomendasi kebijakan dari lembaga-lembaga yang berlokasi di jantung Amerika Serikat untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara-negara Amerika Latin, terbesit adanya harapan baru untuk meningkatkan taraf hidup ratusan juta kehidupan di duniaketiga.

Liberalisasi dalam berbagai bidang kehidupan, resep Washington yang kemudian menjadi kebijakan perekonomian berbagai negara di dunia, dianggap bisa membongkar kebobrokan Negara: korupsi, kolusi, nepotisme. Apa yang terjadi setelah dua dekade liberalisasi ekonomi dan keuangan berlangsung? Tentunya tidak sedikit orang Indonesia dan orang dunia ketiga yang menikmati liberalisasi. Sayangnya, masih banyak yang belum menikmatinya. Bahkan, mungkin, menjadi korban liberalisasi.

Salah satu korbannya, petani. Tata dunia neoliberal berlaku keras terhadap petani Dunia Ketiga; Negara-negara yang mengikuti resep ekonomi Washington dituntut menghapus subsidi untuk petani, yang pada akhirnya menempatkan mereka dalam kompetisi yang amat timpang menghadapi produk-produk pertanian negara maju.

Belum lagi, di negara seperti Indonesia, global warming dan ketidakpastian hukum merupakan momok yang sangat nyata mengancam mereka. Perdagangan antarnegara yang adil masih merupakan sesuatu yang jauh dari jangkauan para petani Indonesia.

Berbeda dengan era Orde baru, petani tembakau sama sekali tidak terlindungi di era neoliberal. Berbagai halangan mereka alami. Tidak ada kemudahan akses ekonomi yang mereka peroleh. Bahkan, mereka mengalami proses marjinalisasi yang lebih mendalam dibandingkan dengan petani komoditas lainnya.

Kegalauan petani beras, misalnya, lebih mudah menjadi isu publik ketika media massa menayangkan kekeringan yang mereka alami. Simpati atas penderitaan mereka pun mengalir, termasuk dari Kementerian Pertanian. Bahkan pemerintah, melalui Menteri Pertanian berjanji untuk memberikan ganti rugi.

Mengapa para petani tembakau ini mengalami diskriminasi, meski mereka juga warga negara Indonesia seperti halnya para petani beras? Dilihat dari kontribusi mereka, keberadaan mereka sendiri merupakan sumbangan ekonomi yang sangat berharga bagi Indonesia.

Belum lagi wilayah-wilayah yang mengandalkan tembakau seperti Temanggung, kehidupan sosial dan kebudayaannya bertumpu pada pertanian tembakau –tanyakan kapan warga di wilayah tersebut menggelar hajatan-hajatan yang menjaga silaturrahmi di desa, kemungkinan mereka akan menjawab “setelah panen tembakau”.

Mengapa para petani tembakau tersebut kini bahkan makin dipojokkan dengan regulasi tembakau yang tidaksensitif dengan kehidupan para penopang perekonomian Indonesia ini? Kita pun bertanya-tanya, ke manakah Negara, sang pengelola globalisasi, berpihak? Prasangka-prasangka spekulatif bahwa Negara berpihak ke kepentingan korporasi asing diuntungkan dengan melemahnya pertanian tembakau di Indonesia kemudian berkembang; meski saya sendiri tidak hendak berspekulasi demikian, tetapi pelemahan sistematis petani tembakau merupakan preseden yang terang dari tenggelamnya pertanian Indonesia di bawah tata dunia neoliberal. Pesan yang paling jelas: Negara tidak sanggup melindungi tonggak-tonggak perekonomiannya sendiri,lemah di hadapan globalisasi yang terus bergerak dengan kecepatan tinggi.

Keterlibatan Negara yang teralu besar dalam satu sektor memang berpotensi menimbulkan korupsi wewenang, dan itulah pelajaran yang kita ambil dari penyimpangan-penyimpangan massif pada masa Orde baru. Tetapi, Negara misalnya dapat memperkuat dan memfasilitasi petani tembakau dalam jaringan tata niaganya.

Selama ini wilayah tersebut sama sekali dibiarkan, dilepaskan Negara, sehingga petani yang merupakan kekuatan produksi paling vital dalam perekonomian tembakau justru berada pada posisi yang rentan –apalagi bila komoditas ini mengalami fluktuasi atau terjerambab. Memberikan sentuhan, dalam kadar yang tepat, dan guna memberikan kesempatan yang setara kepada warganya, adalah tugas para pengelola globalisasi saat ini –negara.

Globalisasi hanya dapat dihadapi dan digarap untuk kemaslahatan Indonesia hanya ketika kita mengenal diri kita sendiri dengan baik. Selama ini Negara telah melakukan hal-hal yang tak pantas dilakukan oleh pelaksana mandat rakyat negeri agraris, dan secara khusus negeri para petani tembakau. Sekarang saatnya itu berubah. Jangan sampai para petani tembakau ini mati lantaran para pengelola globalisasi yang tidak bertanggung jawab

Penulis
Dr.Hanneman Samuel
Staf Pengajar di Departemen Sosiologi Universitas Indonesia

 

Tags:

Latest from Opini

meme06

Curhat Petani Tembakau 

Kondisi cuaca membuat produksi tembakau petani mengalami penurunan secara kualitas. Tanaman tembakau
Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com