meme01

Perang Troya, Perang Nikotin

in Opini by

– Hormati para dewa, cintai istrimu, dan pertahankan negerimu. (Hector)

Agamemnon mengobarkan perang pada Kerajaan Troy! Penguasa Yunani yang terkenal serakah itu mendapat pembenaran atas nafsu ekspansinya setelah adik dan sekutunya, Menelaus datang padanya. Menelaus yang marah karena pangeran muda Troy, Paris, melarikan permaisurinya, Helen.

Agamemnon sejak lama mengincar Troy demi menguasai Laut Aegea (sekaligus Laut Tengah) dan rute perdagangan menuju benua Asia. Tapi seperti yang dicatat sejarah, dinding Troy tidak pernah dapat ditembus oleh kerajaan manapun.

Segera setelah Menelaus menghadap, Agamemnon meminta seluruh raja kecil di Yunani mengumpulkan pasukannya. Total ada sekitar dalam 1.000 kapal ikut berlayar. Demi keserakahan 1 orang dan amarah 1 orang lain, darah dari 50.000 orang Yunani dan ribuan orang Troy siap tumpah. Perjalanan ke tanah impian dimulai, perang dibuka.

Di seberang, di waktu senja mulai menua, Pangeran Hector, yang mengomandoi pasukan Troy memandangi lautannya yang disesaki kapal. Sekalipun ia tak sampai hati membayangkan kalau kerajaannya, kalau tanah airnya, tanah kelahirannya akan direbut oleh pasukan yang lalim.

Tapi raut mukanya jelas kalau ia khawatir, sekali saja ada yang lalai (dan pikirannya langsung tertuju pada ayahnya, raja Priam) maka dinding Troy akan runtuh berkeping.

Perang terbesar di jamannya berkobar. Bau darah menebar kemana-mana. Laut yang sebelumnya sesak oleh kapal, sekarang sesak oleh bau darah. Angin laut yang biasanya sejuk, sekarang berubah menjadi jahat. Ia menjadi penanda kapan perang, kapan istirahat. Tapi dinding Troy masih tegar.

Pasukan Yunani belum mampu meruntuhkannya, hanya dapat merebut pantai. Apalah arti pantai tanpa tanah, tanpa dinding? Seperti apalah arti beberapa batang pohon tapi tak menguasai hutan? Persis itulah yang dipikirkan Agamemnon.

Lima puluh ribu orang dan beberapa ribu lainnya berhadap-hadapan. Agamemnon, Menelaus, dan Hector berhadapan pula, hanya berjarak sekian langkah. Seperti biasanya, seperti saat ia menaklukan raja-raja kecil di wilayah Yunani, Agamemnon dengan keangkuhannya mengatakan, ia telah membawa pasukan terbesar dalam sejarah, dan jika Troy tidak mau takluk, maka putra-putra Troya harus mati.

Adiknya, Menelaus, yang sebenarnya lebih punya amarah hanya diam. Ia Cuma ingin satu, Paris mati, dan mantan istrinya juga. Kehormatannya terenggut. Tapi ia kisah justru berkata lain, ia mati lebih awal dari pasukan Yunani manapun di tanah Troya.

Pertemuan pertama, Yunani kalah, serangan brutal tanpa strategi tidak menemui kemenangan. Dan sepertinya keadaan tidak akan pernah berubah.

Sampai pada satu waktu, ada dua kejadian penting yang membalikkan keadaan situasi. Pertama, matinya Hector, orang paling kalkulatis dan awas di kerajaan Troy. Kedua, ditemukannya ide menyembunyikan ribuan kapal mereka, menyebarkan isu terserangnya wabah di pasukan Yunani, sekaligus membuat kuda Troya seolah itu adalah persembahan bagi dewa Poseidon.

Seperti dikisahkan Homer, kuda itulah yang menunjukkan kelalaian Priam, kuda yang menunjukkan bagaimana para penjajah selalu punya cara licik untuk menaklukkan tanah jajahan. Kuda yang mungkin saja, paling dikenal sepanjang sejarah manusia.

Kuda Troya diciptakan dan para ksatria Yunani masuk ke dalamnya. Si tua Priam menginginkan kuda itu dibawa ke pelataran kerajaan. Para penasehatnya juga menganggap bahwa itu adalah sesembahan musuh mereka untuk menghindari wabah yang meluas. Hanya Paris yang curiga ada yang tidak beres dengan kuda tersebut.

Umpan itu akhirnya dimakan mentah-mentah oleh Priam dan penasehat-penasehatnya. Seperti yang dapat diduga, Troy hancur. Ksatria-ksatria Yunani berhasil merebut Troy.

Dinding Troy megah sama sekali tidak hancur dari luar. Ia diruntuhkan dari dalam, dari arah pelataran kerajaan.

***

Adalah ingatan tentang film Troy yang lekat dalam pikiran saya ketika kesekian kali membaca Kriminalisasi Berujung Monopoli (Salamuddin Daeng, dkk, 2011). Film yang diaktori Brad Pitt  dan Orlando Bloom ini lekat karena ia menghadirkan ironi, keserakahan, dan kelalaian. Serupa dengan yang ditawarkan Salamuddin Daeng, dkk di bukunya tersebut.

Buku itu sebagian menceritakan tentang fakta ada kerjasama apik antara perusahaan obat-obatan dan institusi kesehatan internasional. yang pertama berniat membela ‘kehormatannya’ yaitu menyebarkan apa yang mereka anggap sebentuk ‘perlindungan kesehatan’ bagi warga dunia. Yang terakhir berniat meluapkan hasrat penguasaan pasar. Keduanya berkelindan, menyatukan kepentingan, dan akhirnya menyerbu dengan serangkaian serangan pada sebuah negara.

Sedang sebuah negara itu, kita tahu itu Indonesia, dimana pemimpinanya bahkan tidak bisa mengamankan kepentingan nasionalnya, yang artinya kepentingan rakyatnya. Hanya karena tertekan atau ditekan oleh dua pihak tadi, akhirnya memasukkan ‘kuda troya’ berbentuk kriminalisasi tembakau yang sengaja diumpankan.

Serangkaian UU dan peraturan pemerintah lainnya, beserta varian pembatasan pada industri berbasis tembakau nasional digulirkan oleh pemerintah demi memuaskan nafsu dua institusi tadi. Serupa Agamemnon dan Menelaus yang menghendaki seluruh putra Troya menemui ajal, keduanya tidak pernah puas sampai Indonesia ini bebas dari tembakau, mulai produksi sampai konsumsi.

Karena niscaya bagi mereka, dua pihak itu, pasar tembakau di Indonesia mirip kerajaan Troya bagi Agamemnon. Keduanya sama-sama molek, sama-sama mendatangkan keuntungan raksasa bagi penguasa barunya.

Selanjutnya, setidaknya sampai sejauh ini, kisah penghancuran komoditas tembakau yang nyata-nyata adalah salah satu industri terkuat di Indonesia senasib dengan Kerajaan Troy.

Arys Aditya
Penikmat film bagus, dan pecinta kretek