Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

Meme3

Harga Rokok Rp50 Ribu per Bungkus Berita Bohong, Abaikan

in News by

Kretek.co –  Jakarta. Ketua Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Indonesia (GAPPRI) Ismanu Soemiran mengecam keras terhadap penyiar berita palsu atau hoax soal kenaikkan harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus. Dia menilai, ini berita bohong.

Kenaikkan harga itu menyesatkan dan sengaja membuat kegaduhan yang bisa menjadi kekacauan ekonomi. Sebab matarantai sirkulasi perekonomian IHT melibatkan banyak element masyarakat. Tingkat sensitivitasnya cukup tinggi mengingat industri ini berbasis pertanian dan memberi konstribusi kurang lebih Rp 170 triliun rupiah pada 2017 nanti melalui cukai dan pajak.

Ismanu menjelaskan, dalam menaikkan tarif cukai rokok, pemerintah sudah mempunyai mekanisme yang pasti sesuai dengan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2007 tentang Cukai. “Dan setiap rencana kenaikkan selalu didiskusikan dengan industri,” jelas Ismanu.

GAPPRI mendukung pemerintah yang telah menetapkan target cukai hasil tembakau pada 16 Agustus lalu. Dalam Nota Keuangan RAPBN 2017 sebesar Rp149,9 triliun atau naik 5,8% dari RAPBN Perubahan 2016 sebesar Rp 141,7 triliun.

Target cukai sebesar itu terdiri dari cukai hasil tembakau sebesar Rp 149,878 triliun, cukai ethyl alcohol (EA) sebesar Rp 150 miliar, dan cukai minuman mengandung ethyl alcohol (MMEA) sebesar Rp 5,53 triliun serta pendapatan cukai lainnya sebesar Rp 1,6 triliun.

“Penentuan target pendapatan cukai itu diarahkan untuk mengendalikan konsumsi barang kena cukai, bukan untuk mematikan apalagi memusnahkan. Semua telah diatur dalam undang-undang bahwa pengendalian dilakukan melalui penyesuaian tarif cukai hasil tembakau dan tarif cukai EA-MMEA,” jelas Ismanu.

Karena itu keinginan untuk mengerek harga rokok menjadi Rp 50 ribu per bungkus, adalah wacana yang sulit dipertanggungjawabkan. Apalagi diplintir seolah itu wacana dari pemerintah, ini adalah bentuk penghasutan yang jahat.

Karena itu, “Sebaiknya masyarakat mengabaikan gosip jahat yang tidak jelas asal muasalnya ini,” imbuh Ismanu.

Produksi rokok di Indonesia itu mayoritas 94% jenis kretek. Di dunia rokok kretek hanya ada di Indonesia karena ditemukan bangsa Indonesia.

Kebhinekaan 600 industri kretek dan keaneragaman bahan baku kretek, membuktikan kretek adalah khasanah industri bangsa yang berbeda dengan industri sejenis di negara manapun. Apalagi saat ini tercatat ada kurang lebih 6 juta orang yang menggantungkan hidupnya dari industri kretek. “Kalau 1 orang menafkahi 3 orang, berarti 24 juta orang menggantungkan hidupnya dari kretek,” imbuhnya.

Untuk menjaga keberadaan industri kretek, GAPPRI selalu mendukung keputusan pemerintah soal tarif cukai maupun aturan-aturan lain yang mengikat dan mengawasi industri hasil tembakau. Dan selama ini pula, pemerintah bersikap rasional terhadap tarif cukai tembakau.
“Kami konsisten dalam menjalankan keputusan pemerintah,” tegas Ismanu.

Sikap pemerintah jelas dan tegas ingin melindungi industri kretek. Kretek adalah milik asli bangsa Indonesia sama dengan “cerutu milik Cuba” atau “bidis milik India” atau “teugela” milik Meksico”.

GAPPRI pun menghargai sikap rasa memiliki yang ditunjukkan oleh Bapak Presiden Joko Widodo dengan tidak mengaksesi Framework Convention on Tobacco Control (FCTC), beleid internasional besutan Badan Kesehatan Dunia atau WHO yang mau mengatur industri kretek.

Presiden menilai, tanpa mengesampingkan faktor kesehatan, industri ini milik Indonesia harus diatur sendiri oleh bangsa Indonesia. Keberadaannya masih dibutuhkan di dalam negeri karena selain banyak menyerap tenaga kerja dan untuk melindungi petani tembakau.

Ismanu menuding, para pembuat rumors rokok naik menjadi Rp 50 ribu per bungkus, sesungguhnya hanya ingin membuat suasana gaduh dan gundah banyak orang. “Rakyat Indonesia sudah cerdas untuk menilai mana yang benar dan mana yang salah. Dan kita ini bangsa berdaulat. Jangan atur atur kami,” pungkasnya.

Tags:

Latest from News

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com