Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

ilustrasi

Kala Dokter Jadi Marketing Farmasi dan Rumah Sakit Sekadar Toko Obat

in News by

Jakarta, – Temuan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) bahwa ada aliran dana Rp800 miliar dari industri farmasi ke para dokter ibarat ‘Menepuk Air Di Dulang Terpercik Muka Sendiri’. Sektor farmasi yang selama ini diklaim steril, sehingga leluasa mengkritik industri tembakau secara’membabi buta’, kini kena batunya.

Belum lagi, fakta bahwa ada 18 lembaga penerima kucuran dana dari Bloomberg Initiave untuk kampanye antitembakau seperti ICW, YLKI, sejumlah perguruan tinggi, Kementerian Kesehatan, dan sebagainya hingga ratusan miliar rupiah, sudah selayaknya menjadi bahan referensi untuk mendalami suap menyuap di industri farmasi.

Pengamat ekonomi politik dari Universitas Bung Karno Salamudin Daeng menilai, selama ini, para dokter sudah seperti marketing perusahaan farmasi. Konsumen, seringkali tidak bisa berkutik, tidak bisa menolak satu resep yang direkomendasikan dokter dengan merujuk obat milik industri farmasi tertentu.

Daeng menjelaskan, selama ini, setiap penjualan obat ke pasien dikembalikan lagi beberapa persen sebagai fee untuk para dokter dan hal itu sudah berlangsung lama. “Selama ini kita diarahkan untuk membeli obat tertentu, kita tidak punya kuasa untuk menolak apa yang harus kita beli,” tegas Daeng, saat dihubungi media, Kamis (22/9).

Dalam bahasa bisnis, kata Daeng, saat ini dokter sudah menjadi marketingnya para perusahaan farmasi dan rumah sakit hanya jadi toko obat. Ini diperparah dengan orientasi kesehatan masyarakat yang masih sempit seputar kesehatan sehingga menjadi objek industri farmasi.

Para dokter yang kemudian membenci produk tembakau memang hasil ‘cuci otak’ industri farmasi. “Dokter-dokter dicuci otaknya untuk memusuhi tembakau,” tegasnya.

Daeng, mengutip pernyatan Prof. dr. Raden Mochtar, pendiri Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia, mengatakan, pada dasarnya, berdagang itu baik, profesi dokter itu mulia. Tapi jika pekerjaan dokter digabungkan dnegan pekerjaan berdagang, maka itu sangat mengerikan, itu hal paling buruk yang ada di dunia.

“Pekerjaan dokter itu baik, berdagang itu baik, tetapi gabungan pekerjaan dokter dan berdagang adalah pekerjaan yang paling buruk di dunia. Itu diucapkan almarhum prof Raden Mochtar. Sementara pengusaha tembakau kan cuma pedagang saja,”tandasnya.

Terkait aliran dana, menurut Daeng harus ditelusuri lebih jauh lagi karan bukan tidak mungkin juga Kementerian Kesehatan kecipratan. Kalau ada aliran duit jumbo seperti itu, apalagi ke dokter, bisa diperiksa apakah mengandung penyalahgunaan profesi. Kedua, ditelisik lebih jauh ke Kementerian Kesehatan.

“Kita kan tidak tahu, tapi tidak mungkin kosong, lah. Kalau dokter salah gunakan profesi sementara Kementerian Kesehatan, penyalahgunaan kekuasaan, tapi harus ada bukti dan ditelusuri, meski fakta di lapangan saat ini biaya dan obat-obatan obatan sudah mencapai langit ke tujuh,” sindir Daeng.

Ia mengingatkan, kecurigaan ke Kemenkes beralasan karena lembaga itu juga seringkali menjadi perpanjangan indurstri farmasi. Kemenkes saja seringkali tidak taat ke DPR dan Presiden, misal di kebijakan Framework Convention on Tobacco Control (FCTC) yang seringkali mendahului Presiden.

“WHO itu jelas dibiayai oleh perusahaan swasta dan farmasi. Salah satu penyumbang terbesar ke WHO yakni pengusaha Michael R. Bloomberg, yang getol menyuarakan gerakan anti tembakau. Itu donatur terbesar kedua sesudah Amerika Serikat, ketiga Inggris, sisanya swasla lain. Jadi korelasi industri farmasi ke WHO tidak bisa dilepaskan,” tegasnya.

Latest from News

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com