Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

ilustrasi13

Aturan Cukai Anyar Bisa Tekan Peredaran Rokok Ilegal

in Cukai/News by

Kretek.co – Para pelaku usaha di industri rokok di daerah optimis Peraturan Menteri Keuangan Nomor 147 tentang Perubahan Ketiga atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 179/PMK.011/2012 tentang Tarf Cukai Tembakau, diyakini akan bisa mengurangi celah peredaran rokok ilegal. Pasalnya, dalam aturan terbaru itu, batas maksimal produksi sigeret kretek (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT) ditambah untuk tiap-tiap golongan.

Kalangan pengusaha rokok mengungkapkan, dengan dibukanya batas atas golongan jadi 3 miliar batang per tahun, maka pabrik di layer tersebut akan mampu mengurangi celah peredaran rokok ilegal karena memiliki kesempatan menaikkan produksi.

Nah, dengan berkurangnya rokok ilegal, industri dan pengusaha bisa lebih tenang. “Harapan kami, iklim usaha kondusif dan sehat di semua golongan. Kami juga ingin pemberantasan rokok-rokok ilegal lebih gencar,” tegas Ketua Gabungan Pengusaha Rokok Malang (Gaperoma) Johny SH, kemarin.

Johny mengatakan, kenaikan tarif cukai tahun depan masih dalam tahap normal dan dari sisi besaran, kurang lebih sama dengan usulan Gaperoma kepada pemerintah pusat, yakni berpatok pada inflasi dan pertumbuhan ekonomi.

Asal tahu saja, kemarin, Direktorat Bea Cukai merilis telah melakukan penindakan terhadap 1.350 kasus hasil rokok ilegal sepanjang 2016. Ini termasuk penindakan rokok impor. Sebanyak 156,2 juta batang berhasil diamankan oleh Bea Cukai.

Nilai barang hasil penindakan tersebut sebesar Rp 116,2 miliar.  Jumlah penindakan tersebut merupakan jumlah tertinggi sejak tahun 2013. Di tahun 2013 tercatat ada 635 kasus dengan jumlah barang penindakan sebanyak 94,1 juta batang yang nilainya mencapai lebih dari Rp 52 miliar.

Gabungan Perserikatan Pabrik Rokok Kretek Indonesia (GAPPRI) juga mendukung penegakan hukum berupa pemberantasan peredaran rokok ilegal yang dilakukan Bea Cukai. Dengan  terciptanya fair treatment bagi industri rokok yang telah mematuhi segala ketentuan dan membayar cukai sesuai kewajibannya, rokok ilegal akan semakin berkurang, dan diharapkan pasar akan diisi oleh industri rokok yang taat aturan.

Pengurus Bidang Cukai Gabungan Pengusaha Rokok Malang Raya (Gaperoma), Hariyanto menambahkan, mayoritas produksi SKM pabrik di Malang masuk golongan IIA dan IIB. Golongan ini pada 2016 hanya boleh memproduksi minimal 2 miliar batang rokok per tahun. Jika ingin meningkatkan produksi, perusahaan harus menaikkan golongan rokok. Namun, itu dihindari karena besaran cukai yang harus dibayar juga otomatis naik. Kalau dinaikkan golongannya, kata Hariyanto, omzet langsung drop. “Efeknya, kalau enggak rugi, ya kolpas,” katanya.

Pada PMK baru itu, produksi SKM golongan dua dilonggarkan menjadi maksimal 3 miliar batang per tahun. Ia memandang, kebijakan ini bisa mendorong para pengusaha rokok di Malang Raya meningkatkan produksi setelah selama ini bertahan dengan produksi di bawah 2 miliar.

Catatan Gapero, ada tiga perusahaan yang bisa menaikkan produksi setelah PMK berlaku awal tahun depan. Sementara hanya satu dari 18 perusahaan anggota Gapero yang memproduksi SKM golongan I.

Hariyanto yakin, aturan baru yang sudah disepakti dan bakal dijalankan per Januari 2017 itu akan mendongkrak semangat produksi 17 perusahaan lain. Tapi, rencana peningkatan produksi juga masih harus disesuaikan dengan kemampuan pasar.  Yang pasti, selama ini tidak berani naik alias produksinya ditahan supaya tidak naik golongan.

Tak hanya SKM, gairah juga muncul dari perusahaan rokok yang memproduksi sigaret kretek tangan (SKT). Pria yang menangani pabrik rokok Grendel itu menjelaskan, dalam PMK baru, maksimal batas produksi SKT golongan IIA dan IIB tahun depan dipatok antara 500 juta hingga 2 miliar batang per tahun.

(Edg)

 

Tags:

Latest from Cukai

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com