Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

img-20161012-wa0029

Petani Merugi Saat Harga Tembakau Tinggi

in News by

Kretek.co – – Petani di Kabupaten Jember, Jawa Timur mengalami kerugiaan jutaan rupiah pada saat harga jual tembakau kasturi di pabrikan cukup tinggi di wilayah setempat.

“Harga jual di pabrikan memang cukup tinggi, namun kualitas tembakau petani sangat buruk karena curah hujan yang cukup tinggi di Jember, sehingga hal itu berdampak rendahnya harga jual tembakau petani akibat kualitasnya jelek,” kata Ketua Asosiasi Petani Tembakau Kasturi Abdurrahman di Jember, Kamis.

Menurut dia, harga jual tembakau Voor Oogst Kasturi di pabrikan sangat tinggi yakni mencapai Rp4,8 juta per kuintal untuk kualitas “top grade”, bahkan harga tersebut menjadi yang tertinggi sejak 10 tahun terakhir.

Pihak pabrikan mematok harga yang sangat tinggi kepada petani, namun kualitas panen tembakau petani saat ini buruk dengan kadar air yang sangat tinggi karena curah hujan yang cukup tinggi di Jember.

“Hujan hampir sepanjang tahun ini menjadi penyebab buruknya kualitas tembakau kasturi. Kadar air tinggi membuat daun tembakau yang dijemur rusak hingga hasilnya mutu jelek dan berdampak pada harga jual yang rendah,” tuturnya.

Ia mengatakan rata rata petani hanya bisa menjual tembakaunya dibawah Rp2 juta hingga Rp3 juta per kuintal, dan berdasarkan kalkulasinya, petani masih merugi karena banyak areal tembakaunya yang gagal panen akibat cuaca ekstrem tersebut.

“Selama satu tahun ini, rata-rata pendapatan petani tembakau kasturi sekitar Rp24 juta per hektare dengan asumsi pendapatan Rp2 juta per hektare per bulan. Sementara biaya yang dikeluarkan petani mencapai Rp38 juta per hektare, sehingga petani masih rugi Rp14 juta per hektare,” ucap petani tembakau asal Kecamatan Pakusari itu.

Sementara Kepala Dinas Perkebunan dan Kehutanan (Disbunhut) Kabupaten Jember Masykur mengakui tingginya harga jual tembakau Jember saat ini pada jenis Voor Oogst kasturi dan Naa Oogst.

“Untuk tembakau Naa Oogst Top Grade bisa mencapai Rp13 juta per kuintal, sedangkan terendah Rp9 juta per kuintal, sehingga diharapkan petani bisa mendapatkan keuntungan dengan tingginya harga jual tembakau yang tinggi,” tuturnya.

Kendati demikian, lanjut dia, fenomena La Nina atau kemarau basah berdampak buruk pada pertanian tembakau di Jember karena beberapa waktu lalu sebagian petani mengalami gagal panen akibat guyuran hujan empat hari berturut-turut.

“Ada penurunan produksi tembakau untuk tahun ini sekitar 20 persen hingga 25 persen dibandingkan tahun lalu karena cuaca ekstrem dan berkurangnya luasan lahan tembakau di Jember,” katanya.

Berdasarkan data Disbunhut Jember tercatat luas areal tanam tembakau jenis Naa Oogst Tanam Awal (Nota) sekitar 1.100 ha, Naa Oogst Tradisional 1.068 ha, Voor Oogst Kasturi 3.383 ha, Voor Oogst Rajangan 417 ha dan White Burley seluas 148 ha. (ant)

Tags:

Latest from News

Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com