img-20161112-wa0012

Perlawanan Politik Petani Temanggung Menghadang Rezim Farmasi Global

in News by

Kretek.co – Budayawan Mohamad Sobary yang akrab disapa Kang Sobary, dalam bukunya ‘’Perlawanan Politik dan Puitik Petani Tembakau Temanggung’’ mengungkap berbagai kegiatan ritual, seni budaya dan sosial petani tembakau di Temanggung, yang di dalamnya terdapat nuansa puitis melalui doa-doa, mantra, serta kidung-kidung yang diungkapkan mereka.

Kegiatan-kegiatan tersebut bukan sekadar tradisi, hiburan atau mengekspresikan jiwa seni para petani. Lebih dari itu, ialah simbol perlawanan politik mereka terhadap pihak-pihak yang dinilai akan mengganggu seluruh tradisi pembudidayaan tanaman tembakaunya, dari hulu hingga hilir.

Dalam buku itu, Sobary mengkaitkan perlawanan puitik petani dengan konteks yang terjadi saat ia riset untuk penulisan bukunya pada 2012. Kala itu, petani tembakau tengah resah karena pemerintah menerbitkan PP Nomor 109/2012 tentang pengamanan bahan yang mengandung zat adiktif berupa produk tembakau bagi kesehatan.

img-20161112-wa0012Hairus Salim salah satu intelektual muda NU alumni Universitas Gadjah Mada, menuturkan, Kang Sobary dalam buku menjelaskan dengan gambang secara ilmiah perlawan kaum tani yang dikemas secara apik dan menjadi sebuah puitik melalui gerakan-gerakan kearifan lokal untuk melawan demi mempertahankan masa depan.

“Kenapa ini perlawanan bukan pembererontakan, karena perjuangan kaum tani bukan perang untuk memberontak. Tapi ini melawan dengan halus, sopan dan religius budaya,” kata Hairus, dalam acara bedah buku di Temanggung, Sabtu (12/11).

Diskusi buku juga menghadirkan Kang Sobary sebagai penulis dan Fahmi Idris, selaku Pemerhati Tembakau. Diskusi dan bedah buku dibuka Bupati Temanggung dengan dihadiri Ketua DRPD Temanggung, puluhan petani, laskar Kretek, Organisasi Muda NU dan Muhamadiyah, dan 120 petani cengkeh.

Fahmi Idris menambahkan, saat ini isu tembakau di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari kepentingan global yang ingin menghilangkan tembakau. Ia mengingatkan, ‘ontran-ontran’ pertembakauan di Indonesia yang dikemas oleh kelompok anti tembakau hanya kepanjangan tangan dari kepentingan gerakan asing di tingkat global. Terutama perusahaan farmasi.

img-20161112-wa0011Ironisnya, masyarakat Indonesia terbawa oleh arus tersebut. Padahal, arus kompetisi bisnis besar tingkat global ini jika tidak ditangkal akan mematikan keanekaragaman sumber daya alam, dalam hal ini tembakau dan cengkeh sebagai bahan baku utama kretek.

Kata dia, jika berbicara tentang RUU Pertembakuan yang sekarang sedang berproses di DPR, petani termasuk Laskar Kretek, harus berani mengambil sikap untuk lebih bersuara di level pusat alias nasional agar mampu mempengaruhi kebijakan. Jangan sampai suara petani kalah oleh kelompok anti tembakau.

“Gerakan anti rokok mempunyai logistik sangat kuat sehingga mampu mempengaruhi Indonesia, dengan opini untuk menyudutkan tembakau dan kretek. Kretek ini sangat menarik kalau kita bedah, bahan bakunya disini, tenaga kerjanya disini, prosesnya disini penjualnya juga disini dan tembakaunya milik bangsa ini dari proses petani Indonesi maka Negara harus bersikap berani melindungi kretek yang merupakan produk Indonesia banget,” tegas Fahmi.
img-20161112-wa0013Dalam penutup diskusi, Kang Sobary menyanyikan tembang jowo gending pangkur surogreget diiringi 3 orang pengrawit dari lamuk mudo laras dari desa Legoksari sebagai bentuk perlawanan menggunakan budaya.

“Buku ini wajah petani. Petani harus menang dan tidak boleh kalah, untuk itu harus ada undang-undang yang mengayomi petani tembakau secara utuh, semua harus hidup saling dukung termasuk dengan industri,” tegas Sobary.