Tembakau Untuk Kemakmuran Indonesia

meme06

Kemana Uang Hasil Tembakau?

in Opini by

Tembakau dan rokok merupakan penyumbang terbesar dalam ekonomi nasional pada masa pemerintahan Jokowi JK. Namun masyarakat tembakau tidak mengetahui kemana uang itu pergi dan digunakan untuk apa?

Pertanyaan itu merupakan gugatan terhadap sistem fiskal dan sistem keuangan nasional indonesia yang kurang memiliki keterkaitan dengan kehidupan mayoritas masyarakat, khusunya petani.

Bayangkan cukai rokok menyumbang Rp 140 triliun lebih ke dalam APBN 2016 belum termasuk pajak. Sumbangan itu telah melebihi akumulasi pendapatan negara sektor migas, mineral dan batubra. Sumbangan sektor tembakau mencapai 4 kali pemdapatan negara dari bagi hasil minyak.

Namun sistem fiskal kita memang tidak adil. Apa yang dihasilkan oleh petani dan kalangan industri tidak dikembalikan untuk membangun pertanian dan industri itu sendiri. Uang uang itu habis untuk membiayai hal hal yang tidak ada kaitannya dengan kemajuan produksi dan produktifitas nasional.

Ini jelas sistem fiskal yang tidak adil. Padahal jika pendapatan negara dari pertanian tembakau dan industri rokok dikembalikan kepada petani dan pembangunan infrastruktur industri, maka dapat dipastikan pertanian yang merupakan fondasi dari ekonomi dan industri yang merupakan tulang punggung ekonomi akan menjadi kekuatan yang mandiri.

Demikian pula dengan sumbangan tembakau terhadap keuangan nasional juga sangat besar. Keuntungan bersih dari hasil industri rokok sepenuhnya dinikmati pemilik usaha terutama asing yang merupakan pemain utama dalam industri ini. Ketidakmampuan pemerintah menerapkan regulasi keuangan yang efektif membuat uang hasil tembakau terakumulasi di bank bank swasta nasional dan asing.

Mestinya pemerintah mampu mengatur agar keuntungan tersebut diwajibkan untuk reinvestasi dalam membangun industri. Selain itu terhadap perusahaan asing diberlakukan pembatasan repatriasi keuantungan mereka.

Dengan demikian akan menjadi kekuatan dalam pembentukan modal nasional. Kewajiban melakukan reinvestasi pada sektor sektor yang mampu mendukung ekonomi nasional.

Mengapa semua ini tidak terjadi? Semua dikarenakan arsitel fiskal dan keuangan nasional indonesia yang fakir gagasan. Orang orang ini terbiasa hidup enak dengan memakan pajak dan cukai tanpa ada gagasan terobosan agar pajak dan cukai menjadi fundamen bagi ekonomi.

Sifat paling manja dari arsitek keuangan Indonesia adalah kebiasaannya disuap dengan utang. Akibatnya kepalanya tidak dapat bekerja dengan baik untuk bisa lepas dari ketergantungan utang.

Oleh karena itu presiden Jokowi harus mengajak para pembantunya tersebut untuk merancang sistem alokasi cukai, pajak dan keuntungan hasil tembakau dan rokok bagi penguatan pertanian, struktur industri, kemandirian fiskal dan keuangan nasional. Kecuali kalau fikiran tidak nyambung, apa boleh buat.

Salamuddin Daeng
Peneliti Asosiasi Ekonomi Politik Indonesia (AEPI)

Latest from Opini

meme06

Curhat Petani Tembakau 

Kondisi cuaca membuat produksi tembakau petani mengalami penurunan secara kualitas. Tanaman tembakau
Go to Top

Powered by themekiller.com anime4online.com animextoon.com apk4phone.com tengag.com moviekillers.com